Rabu, 16 Maret 2011

METODE SALAF DALAM MENYIKAPI AYAT/HADIS MUTASYABIHAT

  • TAQDIS (mensucikan Allah dari kebendaan/jismiyah dan sifat-sifat yang mengikuti BENDA) Ketika mendengar kata tangan atau jari-jari seperti dalam hadist : Allah menciptakan adonan tubuh adam as dengan tanganNYA'. Ketahuilah bahwa kata tangan ada 2 makna: 1 penggunan makna asal yaitu anggota tertentu yang disusun dari  daging sendi,tulang dan punya ukuran panjang dan lebar tertentu. 2 Penggunaan makna istiarah/ pinjaman yang bukan jisim/ benda, contoh : negara ditangan raja, maka perkataan ini  dapat kita pahami, walaupun raja tersebut tidak punya tangan. Maka Salaf mewajibkan bagi  umat islam meyakini bahwa apa yang disabdakan oleh Rasul Saw bukanlah sesuatu anggota yang tersusun dari  daging, darah dan tulang, karena hal itu mustahil bagi ALLAH.
Kalau terbersit di hati kita bahwa Allah sesuatu yang tersusun dari berbagai organ, maka dia hakikatnya beribadah  pada berhala YG ADA DALAM hayalannya, karena setiap benda/jisim adalah mahluq, maka menyembah  mahluq adalah kafir menurut ijma salaf dan holaf.
Cirì2 jisim/benda:
1 Kasif seperti gunung, berhala, bulan dll, ada dan latif seperti cahaya,angin,gelap dll
2 bersifat besar seperti arasy, langit, dan bersifat kecil seperti kerikil dll
3 bersifat keras seperti batu, tanah, manusia dll, juga bersifat cair..
Barang siapa yang menafikan jismiyah/kebendaan maka akan menafikan organ, juz dan tanda sifat mahluq pada ALLAH SWT.
Maha suci Allah dari hal yang menjadikannya tanda adaNYA permulaan bagi Allah seperti menyamai jisim atau sifat jisim. setelah memahami paparan tadi kita yaqin bahwa makna yang terkandung dalam  ayat/hadist mutasyabih bukanlah MAKNA benda atau sifat benda, tetapi yang dimaksud adalah makna  yang layak bagi ALLAH SWT, walaupun kita tidak tahu haqiqat makna tsbt, dan kita tidak diperinatah untuk  mengetahui haqiqatnya, justru yang wajib bagi kita adalah jangan terlalu membahas secara mendetail haqiqat kandungan maknanya..!
Contoh lain : ketika kita mendengar kata nuzul/turun dalam hadis: Allah turun pada setiap malam kelangit yang pertama', kata nuzul/turun adalah kalimat yang digunakan dengan  banyak makna, diantaranya :
  1. MAKNA HISI (SECARA BENDA), maka nuzul/ turun butuh pada 3 unsur : 1 tempat atas, 2 tempat  awah, 3sesuatu yang turun dari atas kebawah. Maka nuzul dengan makna pindah dari tempat atas kebawah, itu adalah sifat benda.
  2. MAKNA LAIN YG BUKAN BERGERAK/TURUN, seperti firman ALLAH SWT:  Dialah yang menurunkan binatang ternak buat kalian (QS.AZZUMAR 6)  coba apakah kita melihat onta, sapi turun dari langit ?? tidak! Tetapi binatang tesebut diciptakan dirahim induknya. berarti ada makna lain dari kalimat nuzul/turun dalam ayat tersebut. yang jelas bukan turun. Dengan begitu Seorang mukmin akan meyaqini bahwa kata  nuzul yang disandarkan pada ALLAH bukanlah seperti makna yang pertama (berpindah sesuatu dari atas ke  bawah) Karena itu adalah benda dan sifat kebendaan, dan Allah bukanlah jisim/benda.  Jika terbersit dalam hati 'jika yang dimaksud bukan turun dengan bergerak dari atas ke bawah', terus apa yang dimaksud dari kata  nuzul/turun tsbt????
Maka jawabanya: kita tidak bisa memahami nuzul/turunnya onta, sapi dari langit sebagaimana dalam ayat diatas, maka bagaimana mungkin kita akan memahami kata nuzul/turun yang disandarkan pada  Allah ???! Maka ketahuilah bahwa yang dimaksud adalah makna-makna  dalam lugot arab yang layak bagi Allah, walaupun  kita tidak tahu kenyataan makna tersebut, yang jelas bukan makna nuzul/trun seperti makna yang pertama.
Contoh lagi seperti kita mendengar kata DI ATAS dalam ayat: dialah yang menguasai diatas hamba2nya ( ) dan  dalam ayat: malaikat takut pada rob yang ada diatas mereka ( ), maka ketahuilah bahwa kata DIATAS adalah  kalimah yang dipakai dalam BANYAK makna: 1 penyandaran benda pada benda yang mana salah satunya lebih tinggi  dari yang lainnya. 2 penyandaran secara drajat, contoh raja DIATAS rakyatnya. Dalam contoh ini Salaf mewajibkan bagi mukmin meyaqini bahwa yang dimaksud bukanlah yang pertama, dan itu mustahil  bagi Allah, karena makna yang pertama adalah kelaziman benda dan sifat benda..dan hal itu dinafikan dari Allah  swt, begitu juga cara memaknai ayat/hadist MUTASYABIHAT yang lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar

khazanah-salafiyyah